Senin, 21 September 2015

Misteri si Gelap

terkadang aku benci gelap,
gelap itu menakutkan
selalu mendatangkan suatu perasaan yang tak pernah aku tau
tak bisa melihat warna, benda dan semua yang ada disekitar
walau tak terlihat tetapi gelap itu benar benar nyata
aku tak pernah bisa menggambarkannya dengan baik
aku selalu kehabisan kata untuk menceritakannya
karena gelap selalu menyimpan misteri
gelap selalu menenangkan
gelap selalu sunyi
gelap selalu indah
di dalam gelap ada ceria dalam cerita
di dalam gelap kutemui sesuatu yang tak kan pernah ku tau dalam terang
karena gelap ini adalah misteri yang menyimpan lorong keindahan dalam istana bumi 

Selasa, 17 Juni 2014

Aku Kamu
Aku
Aku hanyalah sosok kecil
Yang tak kasat mata
Aku hanyalah rumput yang tak dipandang
Terinjak injak langkah kaki manusia
Aku hanyalah debu yang terbang
Kotor dan terusir
Kamu
Kamu adalah sosok yang besar
Yang selalu terlihat disetiap tempat persembunyianmu
Kamu adalah intan yang berkilau
Yang tak kan terbeli oleh kaum duafa
Kamu adalah mawar merah merekah
Lambang agungnya cinta
Aku dan kamu berbeda
Aku dan kamu begitu jauh
Kamu, iya itu lah kamu
Kamu lah sosok yang sempurna
Yang hanya akan jadi mimpi untukku
Dan kamulah sosok yang takkan tersentuh oleh bibir kenyataan
Dalam hidupku

Senin, 24 Maret 2014

Aku terperangkap

Awal perkenalan itu membuat ku terperangkap
Aku masuk dan terjerumus ke dalam perangkap mu
Sekokoh batu karang kau cipta perangkap mu
Sekuat rantai kau ikat diriku
Tanpa aku mampu melepaskan diri
Tapi aku menikmati setiap sisi dari perangkap mu
Ku nikmati, hingga rasa sakit yang kau ciptakan tak kurasa
Ku nikmati, hingga tak kulihat keindahan yang lain
Aku yang selalu melihat mu dari perangkap mu
Aku yang selalu mengasihimu dari perangkap mu
Dan aku yang masuk perangkapmu tanpa kau tahu dan kau pedulikan
Dan aku yang masih menunggu mu dalam perangkap mu

Senin, 02 Desember 2013

Sepiku Rindu
Langit muram
Hujan berlari cepat
Turun menerobos sela sela dedaunan
Angin mendesah lelah
Dingin, itu yang kurasa
Tubuhku mengigil
Gigiku gemertak
Bibirku membiru
Hatiku membeku
Sementara langkahmu menjauh
Ku ingat saat dingin menjalar ditubuhku
Kau hangatkanku delam pelukmu
Kini,
Tak terasa lagi kehangatan dari jemarimu
Tak terasa lagi kehangatan dari sosokmu
Tak terasa lagi kehangatan dari hatimu
Langkahmu semakin jauh
Semakin tak terlihat
Ketika labirin kosong dihatiku
Mulai terisi olehmu
Sosokmu terasa lenyap
Kata kata yang terucap seakan menguap
Cinta yang ada berubah menjadi uap
Kini, aku hanya terdiam
Terdiam dalam sepiku
Dalam sepiku yang selalu merindukanmu
Merindukanmu yang telah pergi
Pergi ketika semua telah tertata rapi
Pergi ketika mimpi seakan menjadi nyata
Dalam sepi kurindu dirimu

lagi-lagi iseng iseng aja nih.. 

Kamis, 28 November 2013

Kamu

Seperti mentari itu dirimu
Seperti rembulan itu dirimu
Seperti bintang itu dirimu
Tak pernah memudar sinarnya
Tak pernah padam cahanya
Tak pernah hilang indahnya
Semua nampak sempurna tanpa cacat
Semua nampak indah tanpa luka
Semua nampak baik tanpa cela
Semua itu tentang kamu
Itulah kamu,
Kamu yang aku liat dari mataku
Kamu yang aku liat dari sisiku
Kamu yang aku liat dari mata hatiku

Itulah kamu...

Selasa, 23 April 2013

Rhincodon typus   Smith, 1828

Whale Shark


Whale shark (Rhinchodon typus) dalam bahasa Indosesia disebut dengan Hiu paus. Hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan hiu terbesar yang memiliki distribusi yang luas di lautan beriklim tropis dan hangat kecuali laut mediterania (Steven, 1994). Panjang dari Hiu paus ini mencapai 15 – 20 meter. Ciri khas dari spesies ini adanya tanda warna bintik – bintik dan garis – garis pucat dengan latar belakang gelap yang memudar ke bawah. Memiliki kepala yang besar, luas dan rata. Mulut yang hampir terminal besar dan gigi yang minute. Memiliki punggungan yang menonjol pada permukaan dorsal. Status ikan yang satu ini berdasarkan IUCN termasuk ke dalam Red List untuk spesies yang terancam punah dan dilindungi dibanyak negara di dunia termasuk India, Maladewa, Australia, Filiphina, Malaysia, Amerika Serikat, dan Honduras (Fowler, 2000).
 Hiu paus (Rhincodon typus) pertama kali dijelaskan dan diberi nama oleh Andrew Smith pada tahun 1828. Hiu paus (Rhincodon typus) merupakan salah satu anggota dari tujuh anggota yang lain dalam family Rhincodontidae dan sekitar 33 spesies dalam ordo Orectolobiformes.  Keterkaitan antar family didasarkan pada kesamaan anatomi dan morfologi.  Rhincodon typus masih memiliki hubungan dengan dalam satu ordonya dengan Orectolobidae, Ginglymostomatidae dan Stegostomatidae. Kebanyakan anggota dalam satu ordonya merupakan spesies benthik yang terdistribusi terbatas pada daerah tropis dan subtropis periaran Indo pasifik. Hiu pasu adalah satu-satunya spesies pelagis dalam ordonya dan satu-satunya anggota yang memakan plankton (Fowler, 2000).
Sistem klasifikasi hiu paus:
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Chordata
Class                : Elasmobranchii
Ordo                : Orectolobiformes
Familly            : Rhincodontidae
Genus             : Rhincodon
Spesies            : Rhincodon typus
Hiu paus memiliki tubuh yang cukup kuat dengan memiliki tiga punggungan yang memanjang dan menonjol di atas panggulnya yang membentang dari insang hingga caudal. Memiliki kepala yang lebar dan bagian bawah perut yang rata dan memiliki terminal mulut yang lebar. Warna tubuhnya biru keabu-abuan dengan pola garis dan bintik-bintik di punggung dan pada permukaan lateral. Permukaan ventralnya berwarna putih (Norman, 2002).
Sirip punggung pertama jauh lebih besar daripada sirip punggung kedua dan menghadap ke belakang tubuh. Pada Hiu paus sirip ekor berbentuk bulan sabitdengan lobus atas lebih panjang dari pada lobus bawah. Sirip punggung dan sirip ekornya bisa mencapai tinggi 1,5 meter lebih. Sirip punggung berbentuk segitiga yang berwarna abu-abu kehitaman dan ada bintik-bintik putih pada beberapa titik begitu pula pada sirip ekornya. Sirip dada berwarna abu-abu gelap pada permukaan dorsalnya dengan bintik putih dan berwarna putih pada bagian ventralnya (Norman, 2002).
Hiu paus memiliki insang yang sangat besar. Selain itu diameter mulutnya mencapai 1,5 meter dan jumlah giginya mencapai 3000. Pada setiap rahangnya terdapat 300 yang tertutup oleh kulit velum dan tidak digunakan dalam proses memakan (Norman, 2002).
Hiu paus (Rhincodon typus) memakan bernagai plankton dan memangsa nekton seperti kepiting kecil, ikan-ikan kecil, iakn tuna dan juga cumi-cumi. Selain itu Hiu paus juga memakan fitoplankton dan makroalga. Tidak seperti vertebrata pemakan plankton lainya Hiu paus tidak tergantung pada gerak maju yang lambat untuk mengoperasikan mekanisme filtrasinya. Tetapi tergantung pada metode menghisap dan menyaring makanan yang memungkinkan untuk menarik air ke dalam mulut pada kecepatan yang lebih tinggi dari cara menyaring makan yang dinamis, seperti pada Hiu basking. Sehingga Hiu paus dapat memakan nekton dna zooplankton yang lebih besar dan lebih aktif. Hiu paus selalu terlihat sebagai pemakan pasif ketika dekat dengan permukaan. Hiu paus akan membuka mulutnya dan menghisap makananya, ketika mulutnya menutup aliran air akan keluar lewat insang. Plankton dan mangsanya yang lain akan terjebak pada dentikel yang melapisi lembaran insang dan faringnya (Martins, et all., diakses pada 15 April 2013).
Hiu paus mendeteksi adanya plankon ataupun mangsanya dengan indra penciumannya yang tajam. Lubang hidung Hiu paus ini terletak dikedua sisirahang atas di tepi terminal mulut. Indra penciuman ini akan mencari dan memindai ketika ada rangsangan kemudian indra penciuman ini akan melemah pada salah satu sisi. Sedangkan matanya hanya memiliki peran kecil dalam perilaku makannya yaitu hanya dalam mengarahkan pergerakan kepala selama makan di permukaan air (Duffy, 2002).
            Cara Hiu pau bereproduksi dimulai pada tahun 1910 oleh Soutwell melalui pengamatan Hiu paus betina di Sri Lanka yang memilii 16 telur menjadi satu dalam saluran telurnya. Tidak diketahui bagaimana cara Hiu paus menarik pasanganya. Bukti yang menunjukkan Hiu paus menarik pasangannya dengan pelepasan hormon memang masih kurang, tetapi sinyal-sinyal kimia dari hormon tetap memiliki peran penting dalam menemukan pasangan. Lubang hidungdi bagian mulutnya yang lebar ini sebagai sumber feromon yang menarik sinyal. Pola pigmentsi dari Hiu paus juga menentukan mereka dalam memilih pasangannya. Hiu paus jantan memiliki warna yang lebih mencolok dari pada yang betina. Rasuio jumlah perempuan menerima jumlah pejantan yang aktif secara seksual dapat menentukan struktur sistem perkawinan. Tidak mungkin akan terjadi Hiu paus betina kana memiliki pasangan lebih dari satu etika rasio jenis kelamin di habitatnya 1:1. Semakin besar rasionya menyimpang maka akan semakin besar potensi untuk poligamy. Distribusi merata dari calon pasangan akan menciptakan potensi yang lebih besar untuk sistem kawin poligami dari Hiu paus. Tahap akhiranya Hiu paus jnatan akan berenang sejajar dengan betina pilihannya, kemudian akan menyentuhsalah satu sirip dadanya dengan rahangnya dan posisi tubuhnya akan menyesuaikan dengan lekukan tubuh betina agar kloakanya dapat bertemu untuk melakukan reproduksi (Martin, 2002).
Hiu paus bersifat ovoviparous, dia bertelur dan juga melahirkan anaknya. Telurnya ini akan disimpan dalam uterusnya sampai waktunya untuk dilahirkan. Telur Hiu paus berwarna kuning dengan tekstur halus dan memiliki celah untuk pernafasan (Martin, et all., diakses pada 15 April 2013). Masih belum banyak bukti yang dapat menunjukan bahwa Hiu paus akan mengasuh anaknya setelah dilahirkan. 
Rhincodon typus menghuni laut hangat di daerah tropis  Rhincodo typus  terdistribusi luas di laut beriklim tropis yang hangat berada antara 300 LU - 35LS kecuali di laut Mediterania. Spesies ini menghuni baik laut dalam ataupun laut dangkal pesisir perairan dan laguna atol karang. Australia merupakan salah satu lokasi yang paling sering ditemukannya Rhincodon typus, yang sebagian besar sering terlihat di Ningaloo Marine Park (NMP) di Australia Barat yang hampir dapat dilihat setiap tahunnya. Selain di Australia secara teratur juga sering terlihat di daerah lain seperti India, Maladewa, Taiwan, Seychelles, Honduras, Afrika Selatan, Kenya, Belize, Meksiko, Kepulauan Galapagos, Chili, Thailand, Filiphina, Malaysia, Mauritius, dan Indonesia. Di Indonesia pernah terlihat di Kalimantan Utara (Norman,2002). Distribusi dan kelimpahan Rhincodon typus  umumya dipengaruhi oleh upwelling, batas arus dan produktivitas pelagis (Duffy, 2002).
Spesies ini lebih memilih air laut laut dengan suhu permukaannya antara 21-250 C dan memiliki produktivitas plankton yang tinggi. (Norman, 2002). Hiu paus lebih suka berpindah-pindah tempat sehingga mereka melakukan migrasi baik lokal ataupun dalam kawasan yang lebih luas. Migrasi ini tergantung juga pada produktivitas makanan di laut. Setiap bulan Maret dan April mereka akan bermigrasi ke daerah Reef Ningaloo. Mereka bermigrasi kesana untuk mendapatkan zooplanton dalam jumlah yang banyak. Hal ini dikarenakan daerah ini sedang tinggi tingkat pemijahannya (Martin, et all., diakses pada 15 April 2013). Populasi dari Hiu paus ini sudahsemakin langka dan spesies ini sudah masuk dalam daftar merah IUCN yang menunjukan bahwa spesies terancam punah (Holemborg, et all., 2009).


Referensi :

Duffy, C.A.J. 2002. Distribution, seasonality, lengths, and feeding behaviou of whale sharks (Rhincodon typus) observed in New Zeland waters. Zealand Journal of Marine and Freshwater Research. Vol. 36: 565-570
Fowler, S.L. 2000. Whale Shark Rhincodan typus Policy and research scoping study June-September 2000. Nature Conservation Bureau. UK
Holemberg, J., Norman, Bradley., and Arzomainan, Zaven. 2009. Estimating population size, structure, and residency time for whale sharks Rhincodon typus through collaborative photo-identification. Endangered Spesies Research. Vol. 7:39-53
Martins, C.,Craig Knickle. http://www.FLMNH.org/Ichtiology/Department/WhaleShark. diakses pada 15 April 2013
Norman, Brad. 2002. Cites Identifications Manual Whale Shark (Rhincodon Typus, 1829). ECOCEAN For Environment Australia Marine Spesies Section









Selasa, 26 Februari 2013

Tarsius


Tahukah kalian tentang primata kecil di Indonesia?




  
Sebelum kalian tahu jawabannya mari kita lihat dimana habitat primata unik yang satu ini. Fauna ini sering kali ditemui di Pulau Sulawesi namun tidak menutup kemungkinan ditemukan pula di pulau tetangga seperti yang ditemukan di Pulau Kalimantan. Sulawesi memiliki luas 187.882 km² dan merupakan pulau terbesar dan terpenting di daerah biogeografi “Wallacea“. Daerah biogeografi Wallacea meliputi Pulau Sulawesi dan pulau-pulau lain yang berada di antara garis Wallacea di sebelah barat dan garis Lydekker di sebelah timur. Ditinjau dari sejarah geologinya, pulau Sulawesi sangat menarik, karenya diduga di masa lampau pulau ini tidak pernah bersatu dengan daratan manapun (Hall dalam Shekelle dan Leksono, 2004). Sulawesi merupakan pulau yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, banyak flora dan fauna endemik yang tidak dijumpai di daerah lain di Indonesia. Menurut Shekelle dan Leksono (2004) hal ini disebabkan oleh adanya evolusi yang disebabkan oleh keadaan terisolasi dalam kurun waktu yang, sehingga pulau Sulawesi mempunyai tingkat endemisitas yang tinggi.
Tarsius dialah primata kecil yang mewarnai kekayaan fauna Indonesia. Primata ini salah satu spesies endemik yang terdapat di Pulau Sulawesi yang setiap spesiesnya tersebar secara endemik di pulau Sulawesi dari Kepulauan Sangihe di sebelah utara, hingga Pulau Selayar. 

Tarsius termasuk ke dalam satwa yang dilindungi. Hal ini didasarkan pada Peraturan Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931 dan Peraturan Pemerintah No.7 Tahun 1999. Tarsius ini termasuk Appendiks II dalam Convention on International Trade in Endangered Species (CITES 2003) dan termasuk vulnerable dalam Red List yang dikeluarkan oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN 2011).

Tarsius berasal dari famili Tarsiidae ordo Tarsiiformes. Genus ini memiliki beberapa spesies diantaranya yaitu Tarsius bancanus yang ditemukan di Sumatera dan Kalimantan, Tarsius syrichta yang ditemukan di Filipina (Wirdateti dan Dahrudin 2006). Di Sulawesi terdapat 11 jenis tarsius, yaitu T. tarsier, T. fuscus, T. sangirensis, T. pumilus, T. dentatus, T. pelengensis, T. lariang, T. tumpara, T. wallacei dan 2 jenis yang diketahui dari jenis berbeda tetapi belum diberi nama (Groves dan Shekelle 2010).

Klasifikasi Tarsius fuscus menurut Groves dan Shekelle 2010 adalah sebagai berikut:
Ordo            : Primata
Subordo       :Haplorrhini
Infraordo    :Tarsiiformes
Famili          :Tarsiidae 
Genus          :Tarsius 
Species       :Tarsius sp

Pada perkembangannya, Groves dan Shekelle (2010) merevisi taksonomi genus tarsius dan mengklasifikasinya hanya menjadi 3 genus, yaitu Tarsius, Chephalopacus dan Carlito sehingga hanya spesies yang berada di Pulau Sulawesi dan sekitarnya yang menjadi bagian dari genus Tarsius. Sementara, spesies yang berada di Kalimantan dan Sumatera, yaitu Tarsius bancanus menjadi bagian dari genus Chephalopacus dan namanya berganti menjadi Chephalopacus bancanus. Begitu juga dengan Tarsius syrichta yang berada di Filipina menjadi bagian dari genus Carlito dan berganti nama menjadi Carlito syrichta. Selain itu, Groves dan Shekelle (2010) juga membatasi penyebaran Tarsius tarsier. Pada awalnya T. tarsier menyebar dari kepulauan Selayar hingga Semenanjung Barat Daya Pulau Sulawesi, namun setelah revisi tersebut jenis ini hanya tersebar di Kepulauan Selayar. Sedangkan tarsius yang berada di Semenanjung Barat Daya Sulawesi kini disebut sebagai Tarsius fuscus. Perubahan ini didasarkan pada perbedaan morfologi dan jumlah kromosom tiap jenis.

Tarsius memiliki rambut tebal dan halus yang menutupi tubuhnya. Warna rambut bervariasi, tergantung dari jenis, yaitu merah tua, coklat hingga keabu-abuan. Tarsius yang berasal dari Sulawesi memiliki ciri khas bila dibandingkan dengan jenis lain yaitu adanya rambut warna putih di belakang telinga dan rambut penutupnya berwarna abu-abu. Panjang tubuh 85 - 160 mm, dan panjang ekornya 135 - 275 mm. Berat tubuh tarsius jantan dewasa sekitar 75 - 165 g. Panjang kaki jauh lebih panjang bila dibandingkan dengan panjang tangan bahkan panjang tubuh secara total. Hal ini berkaitan dengan cara bergeraknya, yaitu meloncat (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Niemitz dan Verlag (1984) menyatakan bahwa tarsius memiliki keistimewaan pada mata karena penglihatan pada malam hari lebih tajam. Organ mata pada tarsius merupakan organ terbesar dibanding organ kepala lainnya. Kepala dapat berputar sampai dengan 180°.Bagian bawah jari-jari tangan dan kaki tarsius terdapat tonjolan atau bantalan yang memungkinkan tarsius untuk melekat pada berbagai permukaan saat melompat di tempat yang licin. Tarsius memiliki kaki belakang yang panjangnya dua kali lipat panjang badan dan kepala untuk memberikan kekuatan melompat karena sebagian besar gerakan tarsius adalah melompat secara vertikal (Wharton 1974). 

Tarsius banyak ditemukan di luar hutan lindung atau area perbatasan hutan antara hutan primer dengan hutan sekunder, hutan sekunder dengan perkebunan masyarakat serta areal perladangan atau pertanian. Sedangkan pohon tidur atau sarang tarsius umumnya ditemukan di sekitar hutan sekunder dan perladangan dengan vegetasi yang rapat (Sinaga et al. 2009). Sedangkan menurut Napier dan Napier (1986), habitat tarsius adalah berbagai tipe hutan yaitu hutan hujan tropis, semak berduri, hutan bakau dan ladang penduduk. Selain itu, tarsius juga dapat hidup di hutan primer yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae dan perkebunan karet (Niemitz dan Verlag 1984).

Pohon tidur merupakan pusat kehidupan bagi tarsius dan terdapat paling sedikit satu pohon tempat tidur dalam satu wilayah kawanan (Kinnaird 1997). Sarang tarsius lebih banyak menempati jenis-jenis pohon  Bambusa sp., Ficus sp., Imperata cylindrica, Arenga pinnata dan Hibiscus tiliaceus (Sinaga et al. 2009). Menurut Widyastuti (1993), kelompok tarsius di hutan primer lebih sering memilih tempat tidur di rongga-rongga pohon yang berlubang terutama pohon Ficus sp., pandan hutan, bambu, dan umumnya jenis berongga, terlindung dari sinar matahari dan agak gelap. Sinaga et al. (2009) menambahkan bahwa ketinggian pohon tidur atau sarang tarsius adalah antara 0- 20 m di atas permukaan tanah serta lebih tergantung pada jenis tumbuhan dan kondisi habitatnya.

Sampai saat ini telah ditemukan 16 populasi tarsius di Sulawesi yang kemungkinan dapat menjadi spesies tersendiri dan baru lima spesies di antaranya yang sudah mempunyai nama yaitu T. spectrum, T. sangirensis, T. pumillus, T. pelengensis dan T. Dianae (Shekelle et al.,2008). Sebelas spesies lainnya masih perlu pemberian nama untuk keperluan konservasi. Wirdateti dan Dahrudin (2006) menyatakan bahwa setiap sarang tarsius terdapat 3-6 individu dengan komposisi anak, remaja dan induk atau dalam bentuk keluarga.

Pola hidup tarsius selalu membentuk suatu unit sosial yang meliputi sepasang individu dewasa bersifat monogami dan tinggal bersama keturunannya dalam suatu teritorial. Sifat ini akan mempercepat pemusnahan spesies karena mereka akan sukar beradaptasi dengan kelompok lain apabila terjadi perusakan habitat dan hutan. Unit sosial Tarsius spectrum pada umumnya membentuk pasangan sebanyak 80% (monogamus) dan hanya sekitar 20% saja yang bersifat multi male-multi female (beberapa jantan atau betina dalam suatu kelompok) (Supriatna dan Wahyono 2000).

Tarsius merupakan satwa insektivora, dan menangkap serangga dengan melompat pada serangga itu. Mereka juga diketahui memangsa vertebrata kecil seperti burung, ular, kadal dan kelelawar. Saat melompat dari satu pohon ke pohon lain, tarsius bahkan dapat menangkap burung yang sedang bergerak. Kehamilan berlangsung enam bulan, kemudian tarsius melahirkan seekor anak. Tarsius muda lahir berbulu dan dengan mata terbuka serta mampu memanjat dalam waktu sehari setelah kelahiran. Mereka mencapai masa dewasa setelah satu tahun. Tarsius dewasa hidup berpasangan dengan jangkauan tempat tinggal sekitar satu hektar.

Tarsius mengeluarkan suara yang khas untuk berkomunikasi antar spesies (Niemitz dan Verlag 1984). Gursky (1999) menambahkan tarsius memiliki komunikasi vocal sebagai siulan kepada kelompok yang tidak dikenal atau sebagai tanda bila ada gangguan, komunikasi calling concerts dan family choruses. Terdapat tujuh nada panggil yang dikeluarkan tarsius, baik sebagai alarm call untuk memanggil anggota kelompoknya keluar dan kembali ke sarang, teritorial call, fear call, threat call, nada-nada yang dikeluarkan induk maupun anak dalam masa pengasuhan, nada-nada yang dikeluarkan oleh jantan dan betina dalam mencari pasangan. Beberapa nada panggil tersebut memiliki frekuensi yang tinggi sehingga berada di luar jangkauan atau tangkapan manusia. Sinaga et al. (2009) menyebutkan bahwa dalam kondisi normal suara tarsius dapat terdengar dari jarak yang cukup jauh dan saling bersahut-sahutan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain atau antar individu dalam satu kelompok.

DAFTAR PUSTAKA
DEPHUT (Departemen Kehutanan). Direktorat PPA. 1978. Pedoman Pengelolaan Satwa Langka; Mamalia. Bogor: Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam.
Groves C, Shekelle M. 2010. The genera and species of tarsiidae. International Journal of Primatology 31 (6): 1071- 1082.
Gursky S. 1999. The Tarsiidae: Taxonomy, Behavior and Conservation Status. Di dalam: Dolhinow P, Fuentes. Non Human Primates. United States of America: The John Hopkins University Press.
IUCN] International Union for Conservation of Nature. 2011. Red List of Threatened Species. http://www.iucnredlist.org/. [15 September 2012].
Kinnaird MF. 1997. Sulawesi Utara Sebuah Panduan Sejarah Alam. Volume 1. Jakarta: Yayasan Pengembangan Wallaceae.
Napier JR, Napier PH. 1985. The Natural History of The Primates. Cambridge: The MIT Press.
Niemitz C, Verlag FG. 1984. Biology of Tersier. New York: Pustet Reagensburg.
Shekelle M, Groves C, Merker S, Supriatna J. 2008. Tarsius tumpara: A New Tarsier Species from Siau Island, North Sulawesi. Primate Conservation (23): 55-64.
Sinaga W, Wirdateti, Iskandar E dan Pamungkas J. 2009. Pengamatan habitat pakan dan sarang Tarsius (Tarsius sp.) wilayah sebaran di Sulawesi Selatan dan Gorontalo. Jurnal Primatologi Indonesia 6 (2): 41-47.
Supriatna J., Wahyono EH. 2000. Panduan Lapang Primata Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Wharton CH. 1974. Seeking mindanau’s strength creatures national geography. Journal Mammal. 51(3): 225-230.
Widyastuti Y. 1993. Flora Fauna Maskot Nasional dan Propinsi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Wirdateti, Dahrudin H. 2006. Pengamatan pakan dan habitat Tarsius spectrum di Cagar Alam Tangkoko- Batu Angus, Sulawesi Utara. Biodiversitas 2 (9): 152-155.